Wednesday, 2 April 2014

Jelangkung Dan Asal Mulanya

Pembaca terkasih,

Mulanya
Jailangkung sudah dikenal luas di Indonesia karena cerita yang turun temurun serta meledaknya film horor indonesia yang selalu kadang menggunkan jelangkung sebagai judulnya. Jelangkung sendiri biasanya dibuat dari sebuah gayung air yang umumnya terbuat dari tempurung kelapa yang didandani pakaian dan bergagang batang kayu. Setelah melakukan beberapa ritual maka jelangkung yang dibuat tadi bisa bergerak gerak dan ini menandakan jika jelangkung tadi sudah kemasukan jin atau mahluk halus lainnya.  Jika kamu pernah memainkan permainan mistis dan gaib ini maka kamu tidak akan heran lagi, namun apa kamu tahu dari mana asal usul pemainan jelangkung ini berawal? 

Asal Mula Jelangkung
Asal penggunaan istilah “Jailangkung” diduga berhubungan dengan sebuah Kepercayaan tradisional Tionghoa yang telah punah. Ritual ini adalah tentang adanya kekuatan dewa “Poyang” dan “Moyang” (mirip istilah “nenek moyang”) yaitu Cay Lan Gong (“菜篮公”, “Dewa Keranjang”) dan Cay Lan Tse yang dipercaya sebagai dewa pelindung anak-anak. Permainan Cay Lan Gong juga bersifat ritual dan dimainkan oleh anak-anak remaja saat festival rembulan. 

Dalam ritual Cay Lan Gong, dewa “Poyang” dan “Moyang” dipanggil agar masuk ke sebuah boneka keranjang yang tangannya dapat digerakkan. Pada ujung tangan boneka tersebut diikatkan sebuah alat tulis, biasanya kapur. Boneka tersebut juga dihiasi dengan pakaian manusia, dikalungi kunci dan dihadapkan ke sebuah papan tulis, sembari menyalakan dupa. Sahabat anehdidunia.com saat boneka tersebut menjadi terasa berat menurut mereka menjadi pertanda bahwa boneka itu telah dirasuki dewa, dan bergerak mengangguk sebagai pertanda setuju setelah ditanyakan siap tidaknya untuk ditanyai, jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diajukan akan dituliskan oleh dewa yang merasuki boneka tersebut pada papan tulis yang disediakan. Ritual Cay Lan Gong sendiri telah punah di Tiongkok, namun diduga ritual dan namanya kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia, menjadi Jailangkung dan masih hidup karena hubungan negeri Tiongkok dan Nusantara yang telah berlangsung ribuan tahun. 

Berbeda dengan Cay Lan Gong, media yang digunakan untuk menampung dewa yang dipanggil dalam Jailangkung adalah gayung penciduk air yang diiringi dengan nyala kemenyan dan perapian. Jaman dahulu gayung terbuat dari tempurung kelapa yang digagangi kayu, sehingga dalam perkembangannya, permainan Jailangkung di Nusantara lebih dikenal dengan ritual pemanggilan dewa lewat boneka berkepala tempurung kelapa yang didandani pakaian. Tetap sebagai permainan anak, boneka ini akan dipegang oleh dua anak yang masih kecil dan dipandu oleh seorang pawang yang memanggil dewa dengan sebuah mantra. Jawaban dari semua pertanyaan akan dituliskan pada sehelai kertas, batu tulis atau kapur. 

Ritual ini dalam perkembangannya di Indonesia mulai digunakan untuk hal-hal selain permainan belaka, seperti untuk mencari informasi tentang diagnosa penyakit dan pengobatannya oleh praktisi kesehatan non-konvensional. Cara memainkan jelangkung pun sebenarnya tidak mudah dan pada umumnya dilakukan oleh tiga orang, yaitu dua orang yang memegang boneka jelangkung, dan pawang yang membaca mantra. Permainan ini kebanyakan dilakukan di tempat yang diyakini angker dan biasanya di waktu senja. Seperti permainan Cay Lan Gong pendahulunya, permainan ini biasanya dimainkan secara beramai-ramai pada saat terang bulan, dan bila makhluk halus tersebut datang, makhluk tersebut akan memperkenalkan dirinya dan bercerita dengan menggunakan bantuan alat tulis. 

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sangat beraneka ragam, seperti nama makhluk tersebut, tahun berapa meninggal dan penyebab meninggal, bahkan sering juga tentang peruntungan masa yang akan datang dan nomer keberuntungan dalam perjudian. Sahabat anehdidunia.com dalam perkembangannya, permainan ini menjadi cukup sederhana, dapat dilakukan cukup hanya dengan menggunakan jangka dengan gambar lingkaran lengkap dengan huruf abjad yang tergambar dalam kertas, dan dengan diiringi suatu mantra sederhana.  Permainan ini juga memiliki berbagai macam versi bahasa.  

Mantra Jelangkung versi bahasa Indonesianya adalah: Jelangkung jelangsat, Di sini ada pesta, Pesta kecil-kecilan, Jelangkung jelangsat, Datang tidak diundang, Pergi tidak diantar.  
Versi Tionghoa adalah Thai lam sin, thai lam fa... Pat nyet sip ng chiang nyi ha loi kau jit ja...oi loi tu loi, ng ho jit sin khi ngoi ngoi... oi hi tu hi, ng ho jit sin ta liong thi... cuk jap co son pun nyi cho, ten sim tham khiau pun nyi ko thai pa so si oi nyi nak, se pa so si oi nyi jung kim ci hiong cuk chiang nyi loi, kim ci hiong cuk chiang nyi con. 

Versi English 'Cay Lan Kung, 'Cay Lan Tse' On the 15th day of the 8th lunar month I invite you to descend to play for 1 night If your're willing, please come down. Do not just standstill. If wish to go then go, do not rebel bamboo leaves built ship for you to aboard, rows of lanterns become bridge for pass through Big key you can hold, small key you can use Joss paper, incense and candles to invite you to come, joss paper, incense and candles to invite you to leave 

Kata-kata tersebut diucapkan berkali-kali, dan setelah makhluk halus diyakini sudah masuk ke dalam boneka, maka pemain dapat bertanya apapun yang mereka mau. Pertanyaan tersebut akan dijawab dengan alat tulis yang diikat di bawah boneka tersebut. Karena sifatnya yang berupa ritual yang memanggil dan berkomunikasi dengan makhluk halus, permainan jailangkung yang awalnya sekedar permainan kemudian berkembang memunculkan mitos-mitos hantu atau kesurupan sebagai imbas untuk orang yang memainkan permainan ini. Mitos tersebut umumnya adalah bila permainan ini diakhiri tanpa melepas atau berpamitan dengan makhluk halus yang masuk ke dalam boneka, makhluk halus tersebut dapat menjadi marah dan dapat membuat masalah untuk para pemanggilnya.

Sumber: anehdunia.com

Tuesday, 1 April 2014

“Tuhan Memberi Saya Hidup yang Kedua”

Pembaca terkasih,

Banyak orang beranggapan kelainan dalam tubuh adalah petaka. Buat Augie itu adalah rencana Tuhan untuk memberinya hidup yang baru di kesempatan kedua.

Oleh Laras Eka Wulandari

Sore itu, Kamis 18 Oktober 2012 suara gemuruh tepuk tangan dan sorak sorai memenuhi sebuah sekolah swasta di bilangan Jakarta Barat. Augie Fantinus (33), bersama tim basketnya, Happy Ballers (beranggotakan sesama selebritas seperti Mario Lawalata, Samuel Rizal, Udjo dan Yosi P-Project, Bams Samson dan lainnya) dengan ceria membuka acara dengan berjoget Gangnam style. Menggunakan seragam basket, Augie tampil begitu bugar dan bersemangat. Augie memang dikenal sebagai presenter acara televisi yang lucu dan menghibur. Postur tubuhnya yang gempal dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 78 kg sering memancing tawa dan rasa gemas orang-orang di sekelilingnya.

Tidak lama kemudian, pertandingan basket dengan para siswa pun dimulai. Augie yang memang hobi bermain basket dari kecil, begitu gigih mengejar dan memasukkan bola ke dalam keranjang. Sesekali tingkah lucunya membuat penonton terbahak-bahak.

Dua menit pertandingan dimulai, tiba-tiba Augie merasa ada yang menusuk dada kirinya. Sesekali ia merasakannya, tapi tak dipedulikannya dan yakin bahwa sakit didadanya itu akan segera hilang. Sambil terus memegang dadanya, Augie kembali fokus pada pertandingan. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti di dua menit sesudahnya. Tubuhnya kehilangan tenaga seketika. Wajahnya membiru. Nafasnya memberat. Dadanya semakin sesak. Tangan kirinya pun kram dan kesemutan. Ia pun minta pergantian pemain. “Gie, kok muka kamu pucat?,” tanya Jul Khaerudin, managernya. “Aduh, tubuh saya lemas sekali. Tidak kuat berdiri dan duduk sepertinya. Ingin tiduran rasanya,” ujar Angie sambil tersengal-sengal. Teman-teman satu timnya langsung menghampirinya bersamaan dan menganjurkan Augie ke rumah sakit. “Nggak seperti biasanya memang. Di lapangan kamu terus memegang dada, Gie,” ujar Udjo Project Pop, teman satu timnya.

Melihat kondisi Augie, Jul menganjurkan agar Augie batuk-batuk agar keadaan membaik. Augie mengikuti saran Jul. Ia merasa lebih lega, namun sakit di dada kirinya membuatnya sesak. Augie lalu diangkat oleh panitia dan rekan-rekan satu timnya ke klinik sekolah, diberikan oksigen, dan juga obat pertolongan pertama untuk membuka pembuluh jantung. Tak lama kemudian ia dilarikan ke RS Royal Taruma, Daan Mogot, Jakarta.

Di Antara Hidup dan Mati

Sesampainya di rumah sakit, Augie segera diperiksa di UGD, diinfus dan jantungnya langsung diperiksa. Hasilnya memang jantungnya ada masalah. Saat itu juga Jul menghubungi orangtua Augie di Bandung. Orangtuanya begitu terkejut. “Kenapa Augie? Gimana keadaannya sekarang?,” ujar Ibunda Augie dengan sangat panik melalui telepon. Dengan amanat  ibunya, tidak lama kemudian, Jul memindahkan Augie ke RS Medistra, Jakarta.

Perjalanan kepindahannya ke RS Medistra adalah saat-saat paling menakutkan dalam hidupnya. “Ini adalah pengalaman pertama saya berada dalam ambulans bersama dokter dan suster yang mendampingi serta suara ambulans,” ujar Augie. Dadanya masih terasa tertusuk dan nafasnya yang dibantu oksigen. Deru laju ambulans diiringi suara sirine membuatnya sangat tidak nyaman. Dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ditambah lagi suara saling bersahutan klakson kendaraan membuatnya sadar bahwa ia sedang berada dalam kemacetan sore lalu lintas ibukota. Hatinya makin menciut dalam cemas. “Bagaimana jika tidak bisa segera tiba di rumah sakit. Masih bisakah saya bertemu mama, papa, dan seluruh keluarga di Bandung,” gumamnya lirih. Pikirannya melayang. Ia takut hidupnya tidak akan lama lagi. Apalagi ia mendengar ucapan dokter bahwa jika jantungnya tidak segera ditangani maka ia tidak bisa selamat. “Saya pasrahkan diri ini padaMu. Ya Tuhan, berilah saya kekuatan untuk bisa melaluinya. Saya mohon,” doanya dalam hati.

Sesampainya di Medistra Augie langsung dibawa ke ruang pemeriksaan angio untuk dilakukan tindakan kateter (pemeriksaan jantung untuk mengetahui masalah yang terjadi pada jantung pasien) dan penyinaran X-ray pada jantungnya dengan pemikiran jika ada penyempitan pada pembuluh darahnya maka akan dilakukan pemasangan ring. Tapi dugaan itu meleset. Dokter mengatakan, ada pembekuan darah di pembuluh jantung yang membuat oksigen tidak bisa masuk ke jantung. Jantungnya melemah. Saat itu dukungan dari keluarga dan kerabat tidak henti-hentinya datang kepadanya. “Yang kuat, Gie.pasrahkan dirimu pada Tuhan. Percayalah pada semua rencana Tuhan. Aku yakin kamu pasti bisa,” teriakan semangat dari Coky Sitohang, sahabatnya melalui ponsel yang membuat semangat hidup Augie bangkit. Darah yang menggumpal dalam tubuh Augie segera dibersihkan dan diberikan obat pengencer darah untuk waktu 24 jam. Keadaannya membaik dan kemudian dipindah ke ruang ICCU.

Esok pagi pukul 06.00 di ICCU, Augie mendapatkan serangan kedua. Aldo, kakak Augie, dengan sigap memanggil dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter yang memeriksanya merasa ada yang tidak biasa. Grafik di monitor yang memantau jantung Augie berjalan normal yang seharusnya tidak ada keluhan. Segera Augie diberikan obat penghilang rasa sakit melalui infus sambil darah terus diencerkan dan dilakukan pemantauan.

Pukul 20.00 kembali Augie melakukan tindakan kateter, dan ternyata gagal lagi. Dokter mengatakan ada yang ganjil. Darah Angie sudah kembali membeku dan menutup pembuluh jantung padahal sudah diberikan obat pengencer darah untuk waktu 24 jam. Dokter kembali melakukan observasi. Akhirnya diambil kesimpulan, ada masalah di darah Augie. Darahnya kental dan cepat membeku.

Perdarahan Saat Tidur

Selain diberikan obat pengencer darah dengan diminum, pengencer darah juga diberikan melalui injeksi di perut. Untuk ukuran normal INR (keenceran darah) berada pada 1.3 hingga 1.5, tapi bagi Augie kekentalan darahnya dikatakan normal jika berada di tengah-tengah angka 2 hingga 3. Selama 12 hari Augie harus dirawat di rumah sakit. Ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit dan melakukan perawatan di rumah dengan kekentalan darah normal (2.8). Ditemani keluarganya, Augie merasa lega dengan kepulangannya ke Bandung. Ibunda Augie begitu bahagia. “Puji Tuhan. Mulai sekarang makan yang teratur. Obat jangan lupa diminum. Kamu juga jangan terlalu lelah,” ibunya berbicara sambil memandangi dan memeluk Augie.

Tiga hari setelah kepulangannya dari rumah sakit, Augie kembali dikejutkan dengan darah yang memenuhi bajunya ketika bangun tidur. “Astaga darah dari mana ini,” kata Augie panik. Ibu Augie pun panik melihat baju putranya penuh darah. Segera Augie berkumur dengan es dan ditemani ibunya bergegas ke dokter untuk memeriksakan kondisinya. Ternyata diagnosa dokter mengatakan darahnya terlalu encer dan berada pada angka 3.4. Dokter memintanya untuk menghentikan pemakaian obat pengencer darah. “Di hari ketiga, saya tidak lagi mengeluarkan darah ketika tidur. Dan kekentalan darah saya berada di garis normal, 2.0,” tutur Augie lega.

Empat hari setelah itu, Augie kembali memeriksakan kondisi jantungnya. Jantung Augie dinyatakan sehat. Pompa jantungnya pun bagus. Tapi dokter menambahkan, walaupun tidak ada masalah dengan jantungnya, Augie masih diharuskan melakukan pemeriksaan. Kelegaan tersirat di wajah Augie. Konsumsi obat pengencer darah yang semula 3 tablet per hari berkurang menjadi 2 tablet. Dua minggu kemudian, Augie kembali memeriksakan INR, dan hasilnya bagus. “Hasil INR saya normal. Tapi aneh karena setiap pagi saya masih keluar darah,” ujar Augie.

Ketidakpuasan, kegelisahan, dan tanda tanya besar  menghantuinya. “Mengapa darah terus saja keluar dari gusi, padahal kekentalan darahnya sudah berada pada ambang normal,” ujar Augie. Ia kemudian memutuskan untuk mendapatkan second opinion dari dokter di Singapura.

Selama sepuluh hari Augie berada di Singapura dan menjalani pengobatan. Hasil pemeriksaan mengatakan, bahwa keluarnya darah dari mulut diakibatkan oleh infeksi pada gusi dan gigi gerahamnya. Dokter pun menyarankan segera dilakukan operasi gigi untuk menghentikan perdarahan. Operasi dilakukan setelah seminggu ia berada di Singapura karena harus menetralkan darahnya yang terlalu encer. Dokter menyarankan agar Augie selalu menjaga kesehatannya agar jangan sampai terjadi serangan ketiga kalinya. “Jika sampai terjadi yang ketiga, dan terjadi lagi pembekuan baik di jantung, di otak atau organ lainnya nyawa saya bisa tidak tertolong,” cerita Augie.

Setelah melakukan operasi keadaan Augie berangsur membaik. “Operasi berjalan lancar. Saya jadi mengetahui bahwa kekentalan darah ini genetik,” tutur Augie. Ia pun teringat di usia 7 tahun pernah mengalami pembekuan darah di otak yang membuatnya lumpuh sebelah hingga harus melakukan terapi berjalan. Matanya menerawang jauh pada  kejadian masa kecilnya.

Mukjizat Hidup

Augie sangat bersyukur ia bisa menghirup udara hingga hari ini. Ia menganggap bahwa kekentalan yang dialaminya adalah karunia Tuhan. “Tuhan mengatur semuanya dengan sangat bijaksana. Walaupun serangan ini datang dengan tiba-tiba, tapi Tuhan memberikan mukjizatnya dengan mengatur kejadian ini dengan luar biasa. Kamis sore saya mendapat serangan jantung dan ditangani oleh dokter ahlinya saat itu juga, karena esoknya dokter harus ke Amerika. Jumat pagi saya harus berangkat ke Bali untuk mengisi acara. Apa jadinya jika saya mendapat serangan di pesawat?” kata Augie.

Ia percaya bahwa cobaan ini adalah kasih sayang Tuhan. “Tuhan yang menciptakan manusia. Maha tahu. Maka saya yakin bahwa segala kejadian yang terjadi adalah atas kehendakNya untuk kebaikan saya sendiri,” tutur Augie.

Kejadian ini dianggapnya sebagai cara Tuhan memberikan kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Bobotnya menyusut 5 kg. “Kekentalan darah yang saya alami bagaikan polisi yang mengingatkan saya agar lebih dekat dengan Tuhan dan keluarga. Saya jadi lebih memperhatikan pola makan, istirahat, dan menjaga darah saya agar terus normal,” ujar Augie.

Namun kondisinya saat ini membuatnya tidak diperbolehkan melakukan hobinya, bermain sepak bola dan basket. “Walaupun berat, tapi saya harus menerima dan menghadapinya dengan semangat, karena sehat itu begitu indah,” tutupnya.

Kekentalan Darah Bukan Penyakit (Aru W. Sudoyo, SpPD, KHOM, FINASIM, FCAP, ahli penyakit dalam FKUI)

Kekentalan darah terjadi akibat kurangnya trombosit (zat yang berperan dalam pembekuan darah) dalam darah. Akibatnya darah mudah lekat antara satu dan yang lainnya. Kekentalan darah bukanlah penyakit melainkan genetik sehingga tidak ada obat yang bisa mengobatinya. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengencerkan darah dengan minum obat dalam jangka panjang.

Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, tidak menjaga kolesterol dalam tubuh, dan stres dapat memicu tingginya risiko. Orang yang memiliki kekentalan darah jika memiliki kolesterol tinggi atau memiliki kebiasaan merokok maka darah akan semakin sulit mengalir.  Sebab kolesterol yang menempel pada pembuluh darah akan membuat pembuluh darah menyempit. Rokok dapat merusak pembuluh darah bagian dalam (endotel) yang berperan mengaktifkan sistem pembekuan darah. Cara mendeteksinya adalah dengan pemeriksaan darah khusus kekentalan darah atau Anticardioliphin antibodies (ACA).

Seluruh organ yang dilalui darah bisa terkena dampak gangguan ini. Pada mata menyebabkan kebutaan, di telinga menyebabkan tuli, di saraf otak menyebabkan stroke, dan  pada jantung menyebabkan serangan jantung tiba-tiba hingga kerusakan katup. Pada perempuan, kekentalan darah ini bisa menyerang organ reproduksi. Akibatnya, bisa memicu keguguran berulang, innfertilitas, dan kelahiran prematur.

Source : Good HouseKeeping Edisi Januari 2013 halaman 58

Kisah Mengharukan Nenek Penjual Tempe

Pembaca terkasih,

Tuhan selalu punya jawaban atas doa seseorang. Jawaban doa itu bisa iya, bisa tidak, atau.. Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk umat-Nya, seperti dalam kisah berikut ini.

Di sebuah pinggir kota, hidup seorang nenek yang hidup seorang diri. Untuk dapat menyambung hidup, nenek tersebut berjualan tempe setiap hari. Pada suatu hari, sang nenek terlambat memberi ragi, sehingga tempe tidak matang tepat pada waktunya. Saat daun pisang pembungkus tempe dibuka, kedelai-kedelai masih belum menyatu. Kedelai tersebut masih keras dan belum menjadi tempe.

Hati sang nenek mulai menangis. Apa yang harus dilakukan? Jika hari ini dia tidak bisa menjual tempe tersebut, maka dia tidak akan dapat uang untuk makan dan membeli bahan tempe untuk esok hari. Dengan air mata yang masih mengalir, sang nenek mengambil wudhu lalu salat Subuh di rumahnya yang sangat kecil dan memprihatinkan.

"Ya Allah, tolong matangkan tempe-tempe itu. Hamba-Mu tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menyambung hidup dengan cara yang halal. Hamba tidak ingin menyusahkan anak-anak hamba. Kabulkan doa hamba-Mu yang kecil ini ya Allah.." demikian doa sang nenek dengan linangan air mata.

Setelah selesai salat Subuh, sang nenek membuka daun pisang pembungkus tempe, tidak ada satupun yang matang. Keajaiban belum datang, doanya belum dikabulkan. Tetapi sang nenek percaya jika doanya akan terkabul, sehingga dia berangkat ke pasar saat matahari belum bersinar, mengejar rezeki dengan menjual tempe.

Sesampai di pasar, sang nenek kembali membuka pembungkus tempe. Masih belum matang. Tak apa, nenek tersebut terus menunggu hingga matahari bersinar terik. Satu persatu orang yang berbelanja berlalu lalang, tetapi tak ada satupun yang mau membeli tempe sang nenek. Matahari terus bergerak hingga para pedagang mulai pulang dan mendapat hasil dari berjualan.

Tempe dagangan penjual lain sudah banyak yang habis, tetapi tempe sang nenek tetap belum matang. Apakah Tuhan sedang marah padaku? Apakah Tuhan tidak menjawab doaku? Begitulah rintihan hati sang nenek, air matanya kembali mengalir.

Tiba-tiba, ada seorang ibu yang menghampiri sang nenek. "Apakah tempe yang ibu jual sudah matang?" tanya sang pembeli.

Sang nenek menyeka air mata lalu menggeleng, "Belum, mungkin baru matang besok," ujarnya.

"Alhamdulillah, kalau begitu saya beli semua tempe yang ibu jual. Daritadi saya mencari tempe yang belum matang, tetapi tidak ada yang menjual. Syukurlah ibu menjualnya," ujar sang pembeli dengan suara lega.

"Kenapa ibu membeli tempe yang belum matang?" tanya sang nenek dengan heran. Semua orang selalu mencari tempe yang sudah matang.

"Anak laki-laki saya nanti malam berangkat ke Belanda, dia ingin membawa tempe untuk oleh-oleh karena di sana susah mendapat tempe. Kalau tempe ini belum matang, maka matangnya pas saat anak saya sampai ke Belanda," ujar sang ibu dengan wajah berbinar.

Inilah jawaban atas doa sang nenek. Tempe-tempe itu tidak langsung matang dengan keajaiban, tetapi dengan jalan lain yang tidak dikira-kira. Ingatlah sahabat, Tuhan selalu punya jawaban terbaik untuk doa umat-Nya. Kadang sebuah doa tak langsung mendapat jawaban. Kadang doa seseorang tidak dijawab dengan 'iya' karena Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk hamba-Nya.

http://www.merdeka.com